Oleh: Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners, M.Kep | 30 Oktober 2015

Nurse Kit (hanya Rp. 250 ribu)

Untuk mahasiswa keperawatan. Praktis, ringan, dan mudah dibawa.

Terdiri dari:

  1. Tas nurse kit
  2. Tensi meter aneroid
  3. Stetoskop
  4. Termometer digital
  5. Pen light
  6. Hammer
  7. Masker
  8. Sarung tangan

Melayani partai besar/kecil. Harga belum termasuk ongkos kirim.

SMS: 082216435463 PIN BB: 2237D2A9

Oleh: Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners, M.Kep | 25 Oktober 2015

VARIABEL YANG MEMPENGARUHI KECEMASAN KEMATIAN PADA LANSIA: SEBUAH LITERATURE REVIEW

Telah diterbitkan di: http://ejournal.stikesborromeus.ac.id/jurnal.php?jurnal=edisi_jurnal&id=499

ABSTRAK:

Lebih dari 20% dari lansia menderita gangguan mental atau neurologis (termasuk gangguan sakit kepala) dan 6,6% dari lansia tersebut mengalami cacat atau diabilitas (dikenal sebagai DALY-disability adjusted life year) karena gangguan-gangguan itu. Gangguan kecemasan (termasuk kecemasan kematian) mempengaruhi 3,8% dari populasi lansia (World Health Organization, 2013). Literature Review ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memberikan gambaran tentang berbagai varibel yang mempengaruhi kecemasan kematian pada lansia. Penelitian dilakukan dengan melakukan review hasil penelitian yang dipublikasikan dari tahun 1991 sampai dengan 2014 dan diperoleh dari beberapa basis data (database) jurnal seperti Medline, CINAHL, EBSCO, dan pencarian dengan Google Scholar. Pencarian data yang dilakukan dengan menggunakan kata-kata kunci, di antaranya adalah kecemasan kematian (death anxiety), lansia (elderly atau older adults). Dari pencarian yang dilakukan diketahui bahwa variabel-variabel yang berhubungan dengan kecemasan kematian pada lansia adalah kualitas hidup, kepuasan hidup, dan budaya. Tidak tertutup kemungkinan ditemukan variabel lain jika pencarian diperluas ke basis data jurnal yang lain.
Kata kunci: kecemasan kematian, lansia
PENDAHULUAN
Menjadi tua merupakan proses yang alami yang akan dihadapi manusia, dan ini juga merupakan tahap yang paling krusial di dalam kehidupan. Pada tahap ini secara alami lansia mengalami penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain sehingga menimbulkan penurunan fungsi. Penurunan fungsi tersebut menjadi penyebab munculnya berbagai persoalan pada lansia dan orang lain yang hidup di sekitarnya.
Garis pemisah antara usia dewasa menengah dan lanjut usia biasanya adalah usia 60 tahun (Santrock, 2004). Sebuah usia yang panjang, lebih dari setengah abad. Panjangnya kehidupan seorang lansia disadari atau tidak dari detik ke detik semakin mendekatkannya pada kematian. Bagi sebagian orang, pertambahan usia cenderung disertai makin besarnya kesadaran akan datangnya kematian dan kesadaran ini menyebabkan sebagian orang menganggap kedatangan kematian seperti kedatangan seorang sahabat (Ed Litot, 2010).
Kematian adalah sesuatu keniscayaan, yang pada akhirnya semua orang akan setuju dan menerima kenyataan bahwa kematian adalah akhir dari pelaksanaan tugas-tugas perkembangan. Namun demikian, adanya kesadaran tentang kepastian datangnya kematian ini memiliki respon yang berbeda-beda pada setiap orang. Perbedaan latar belakang sosial, kepercayaan, dan pengalaman hidup telah membentuk tingkatan spiritualitas masing-masing lansia, namun lansia masih tetap saja mengalami kecemasan akan menghadapi kematian.
Tidak jarang kecemasan kematian tersebut dirasakan secara berlebihan sehingga menimbulkan gejala-gejala yang dapat diamati dari luar. Para ahli gerontologi mengungkapkan bahwa lansia sebenarnya memiliki kemungkinan yang tinggi untuk mengalami gangguan-gangguan kecemasan yang disebabkan oleh beberapa faktor tertentu (Santrock, 2004). Menurut Lehto dan Stein (2009) karena manusia memiliki apa yang dikenal sebagai negatif emosionalitas, bahkan hanya dengan membayangkan melihat mayat saja sudah dapat membangkitkan kecemasan kematian.
Carpenito-Moyet (2008) menyebutkan kecemasan kematian sebagai suatu keadaan dimana individu mengalami perasaan gelisah karena ketidaknyamanan yang tidak jelas atau samar atau ketakutan yang dihasilkan oleh persepsi tentang ancaman terhadap keberadaan seseorang, baik nyata maupun imajinasi. Kecemasan kematian dapat berkaitan dengan datangnya kematian itu sendiri, cara mati, serta kesakitan atau penderitaan yang mungkin menyertai datangnya kematian (Abdel-Khalek, 2005). Henderson (2009) mengungkapkan setidaknya ada 5 faktor yang mempengaruhi individu secara umum yaitu umur, jenis kelamin, dukungan sosial, religiusitas, dan integitas ego.
Kübler-Ross (2011) telah menyatakan bahwa sebagian besar orang ketika kematian mendekat akan melewati lima tahap: penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan (meskipun tidak setiap individu mencapai tahap akhir). Kondisi tersebut dapat menganggu tugas perkembangan yang harus dilalui oleh seorang lansia, salah satunya adalah mempersiapkan kematiannya sendiri (Monks, 2009).
Lebih dari 20% dari lansia menderita gangguan mental atau neurologis (termasuk gangguan sakit kepala) dan 6,6% dari lansia tersebut mengalami cacat atau diabilitas (dikenal sebagai DALY-disability adjusted life year) karena gangguan-gangguan itu. Gangguan kecemasan (termasuk kecemasan kematian) mempengaruhi 3,8% dari populasi lansia (World Health Organization, 2013).
Literature Review ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memberikan gambaran tentang berbagai varibel yang mempengaruhi kecemasan kematian pada lansia.

METODE
Upaya pencarian ditujukan untuk mengidentifikasi berbagai hasil penelitian yang telah dipublikasikan dengan menggunakan teknik pencarian yang dapat diterima yaitu melalui Medline, CINAHL, dan Google Scholar. Artikel-artikel yang terkumpul Ini adalah database dari literatur yang berasal dari berbagai disiplin ilmu khususnya keperawatan dan psikologi. Kata-kata kunci yang digunakan adalah: death anxiety elderly dan death anxiety older adullts. Untuk menyaring artikel yang akan dilakukan kajian, digunakan suatu kriteria seleksi. Kriteria inklusi yang digunakan dalam memilih artikel meliputi: hasil penelitian kecemasan kematian pada lansia, artikel berbahasa Inggris, publikasi dalam jurnal bertahun 1991-2014 baik penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Temuan berupa abstrak adalah kriteria eksklusi.

HASIL
Hasil penelusuran Penulis ditemukan 9 artikel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Artikel yang eksklusif baik teoritis maupun metodologis serta tidak spesifik untuk kecemasan kematian pada lansia dikeluarkan.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian yang dikutip dalam literature review ini seluruhnya merupakan studi kuantitatif (survey, pendekatan evaluasi, studi korelasional, dan studi eksplorasi).
Hasil pencarian terhadap variabel yang berhubungan dengan kecemasan kematian pada lansia diuraikan dengan kategori sebagai berikut:
1. Kualitas hidup
2. Kepuasan hidup
3. Budaya
Hasil-hasil ini sesuai dengan pandangan para ahli keperawatan gerontik yang telah berusaha untuk mengungkap faktor-faktor apa yang dapat memengaruhi tingkat kecemasan kematian pada lansia. Smith, Ingram, dan Brighton (2009) menyebutkan bahwa kecemasan kematian pada lansia dipengaruhi oleh kualitas hidup (quality of life) dan kepuasan hidup (life satisfaction). Sementara Lehto dan Stein (2009) menambahkan dengan satu faktor lain yaitu budaya. Lehto dan Stein menyatakan bahwa kecemasan kematian juga dibentuk dan dapat bervariasi oleh budaya yang dianut seseorang. Greenberg et al. yang mencetuskan Terror Management Theory (TNT) atau Teori Pengelolaan Kengerian pada 1986 menyatakan bahwa manusia juga menggunakan budaya sebagai peredam kecemasan kematian.

Kualitas Hidup
WHO mendefinisikan kualitas hidup sebagai persepsi individu tentang posisinya dalam kehidupan dalam konteks budaya dan sistem-sistem nilai dimana individu tinggal dan dalam hubungannya dengan tujuan-tujuan, harapan-harapan, standar-standar dan keprihatinan-keprihatinan individu. Kualitas hidup seorang lansia didefinisikan, pertama dan terutama, berdasarkan penghargaan yang mereka miliki terhadap diri mereka sendiri, sesuatu yang membuat mereka merasa memiliki kekuatan, dan kedua yakni penghargaan yang diperlihatkan orang lain terhadap mereka. Selain itu berbagai kondisi seperti pensiun, kehilangan pasangan hidup, hilangnya peran sosial, berkurangnya dukungan sosial, kesepian, dan berkurangnya signifikansi kehidupan pribadi, dapat menciptakan hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik (Paschoal et al., 2007).
M. E. Maddahi et al (2011) yang meneliti hubungan kualitas hidup dan kecemasan kematian pada lansia metemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan (nilai r = -0.462) antara kualitas hidup dan kecemasan kematian dengan tingkat kepercayaan 99%. M. E. Maddahi et al. menemukan bahwa semakin kurang kualitas hidupnya semakin lansia merasakan kecemasan kematian, dan sebaliknya, semakin baik kualitas hidup lansia, semakin rendah tingkat kecemasan kematian.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Dickinson di Inggris yang dipublikasikan pada tahun 2010. Dickinson dan tim peneliti meneliti kualitas hidup dan kecemasan kematian dengan responden 1.000 orang berusia 65 ke atas. Responden terdiri dari etnis yang beragam.
Kelompok responden diperoleh dari Kantor Statistik Omnibus Nasional Survei (ONS) (terutama kulit putih) dan Survei Ethnibus (beragam etnis). Orang kulit putih Inggris hampir sama dalam hal latar belakang sosial, pendidikan, dan ekonomi. Instrumen yang digunakan adalah Older People’s Quality of Life (OPQOL) yang terdiri dari 35 pertanyaan dengan skala Likert.
Hampir sepertiga responden Ethnibus tinggal di rumah tangga dengan empat atau lebih orang dewasa dibandingkan dengan hanya 1% dari sampel ONS. Dan hanya satu dari 20 Ethnibus responden tinggal sendirian dibandingkan dengan hampir setengah dari sampel ONS. Dua pertiga dari sampel Ethnibus memiliki jaringan keluarga besar empat atau lebih kerabat yang praktis siap untuk membantu dibandingkan dengan satu dari tiga di antara sampel ONS.

Hasil analisis menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden sampel Ethnibus memiliki skor buruk untuk kualitas hidup dan kecemasan kematian. Artinya semakin buruk kualitas hidup lansia semakin tinggi kecemasan kematian yang dialaminya. Kualitas hidup yang lebih baik mengurangi tingkat kecemasan kematian pada kedua kelompok sampel, namun tingkat kecemasan kematian responden Ethnibus lebih tinggi secara signifikan dibandingkan responden dari ONS.

Kepuasan Hidup
Kepuasan merupakan kondisi subyektif dari keadaan pribadi seseorang sehubungan dengan perasaan senang atau tidak senang sebagai akibat dari adanya dorongan atau kebutuhan yang ada pada dirinya dan dihubungkan dengan kenyataan yang dirasakan (Chaplin, 1999). Kepuasan hidup merupakan kemampuan seseorang untuk menikmati pengalaman-pengalaman yang disertai dengan tingkat kegembiraan. Kepuasan hidup timbul dari pemenuhan kebutuhan atau harapan dan merupakan penyebab atau sarana untuk menikmati. Seorang individu yang dapat menerima diri dan lingkungan secara positif akan merasa puas dengan hidupnya (Hurlock, 2000).
Ada beberapa studi tentang hubungan antara kepuasan hidup dan kecemasan kematian. Hasil penelitian Abdel-khalek dan Al-Sabwah (2005) di Mesir menunjukkan adanya hubungan antara skor kepuasan hidup dengan nilai pada Skala Kecemasan Kematian (DAS). Demikian pula hasil penelitian Khadijeh Roshani (2012) menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kepuasan hidup dan kecemasan kematian koefisien korelasi -0,262 (P < 0.004). Dengan kata lain, ada korelasi negatif yang signifikan antara kepuasan hidup dan kecemasan kematian sehingga dengan peningkatan kepuasan hidup, kecemasan kematian menurun. Dengan kata lain, dengan peningkatan kepuasan hidup, kecemasan kematian menurun. Hal ini konsisten dengan temuan Abdel-Khalek dan Al-Sabwah (2005) dan juga penelitian Naderi dan Esmaili (2009) yang memperlihatkan adanya hubungan antara kepuasan hidup dan kecemasan kematian.

Budaya
Schumaker et al. (1991) melakukan penelitian transbudaya di Australia untuk melihat kecemasan kematian lansia Australia dan lansia Jepang yang tinggal di Australia. Penelitian ini membandingkan tingkat kecemasan kematian yang diukur dengan Death Anxiety Scale-nya Templer 1970. Hasilnya responden lansia Jepang memiliki skor kecemasan kematian yang lebih tinggi secara signifikan daripada responden lansia Australia. Hasil penelitian ini tampaknya bertentangan dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa sikap budaya Timur menyebabkan tingkat kecemasan yang lebih rendah daripada budaya Barat.
Penelitian lain terkait budaya, Abdel-Khalek et al. (2009) misalnya, menemukan tingkat kecemasan kematian dari 2 latar belakang budaya yang berbeda, yakni budaya Barat (diwakili oleh responden yang berasal dari Spanyol, Inggris, dan Amerika Serikat) dan budaya Timur (responden dari Kuwait, Siria, Lebanon, dan Mesir) lebih tinggi secara bermakna pada budaya Timur (dengan nilai t sebagai berikut: Mesir 7.97, Kuwait 8.50, Lebanon 6.96, Siria 3.36, Inggris 0.50, Spanyol 7.27, Amerika Serikat 4.76). Selain itu, Du et al. (2013) juga melihat bahwa dari sampel orang Austria (mewakili budaya Barat) dan sampel orang Cina (mewakili budaya Timur) harga diri personal dari kedua kelompok sampel ternyata berhubungan secara terbalik dengan kecemasan kematian. Penelitian yang hampir serupa pernah dilakukan oleh Schumaker et al. (1991) yang dilakukan terhadap sampel orang Jepang dan orang Australia. Anehnya tingkat kecemasan orang Jepang secara bermakna lebih tinggi daripada orang Australia, padahal anggapan umum bahwa orang-orang dengan budaya Timur lebih tahan terhadap kecemasan kematian. Demikian juga penelitian Abdel-Khalek dan Lester (2009) dengan sampel orang Kuwait dan orang Amerika, tingkat kecemasan kematian dari sampel orang Kuwait juga secara bermakna lebih tinggi. Penelitian-penelitian tersebut tidak secara spesifik melihat hubungan budaya dengan kecemasan kematian, tetapi sekedar membandingkan kelompok sampel secara lintas budaya; budaya Timur dan budaya Barat.

KESIMPULAN
Setiap lansia dapat mengalami kecemasan kematian dengan berbagai derajat. Banyak penelitian telah mencoba untuk menentukan variabel –variabel yang berhubungan dengan kecemasan kematian. Hasil kajian literature yang Penulis lakukan setidaknya menemukan 3 variabel yang spesifik berhubungan dengan kecemasan kematian khusus pada lansia, yaitu: kualitas hidup, kepuasan hidup, dan budaya. Temuan ini setidaknya agak berbeda dengan yang diungkapkan oleh Henderson (2009) yang menyebutkan bahwa variabel umum dari kecemasan kematian adalah umur, jenis kelamin, dukungan sosial, religiusitas, dan integitas ego.

DAFTAR PUSTAKA
Abdel-Khalek. Death Anxiety In Clinical And Non-Clinical Groups. Death Studies Journal Volume 29, Issue 3, 2005.
Abdel-Khalek Et Al. 2009. The Arabic Scale Of Death Anxiety: Some Results From East And West. Omega, Vol. 59(1) 39-50
Carpenito & Moyet. 2008. Nursing Diagnosis: Application to Clinical Practice. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Chaplin, C. P. 1999. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Press.
Dickinson, Emma. Having plenty of supportive relatives increases fear of dying. BMJ-British Medical Journal. Public release date: 29-Mar-2010.
Du, Hongfei et al. 2013. Cultural influences on terror management: Independent and interdependent self-esteem as anxiety buffers. Journal of Experimental Social Psychology 49 (2013) 1002–1011.
Henderson, Lori. 2009. Variables Affecting Death Anxiety. http://home.wlu.edu/~whitingw/sampap.htm diakses 2 Juni 2014.
Hurlock, E.B. (1997). Develovmental Psycology A Life Span Approach. Fifth edition. Tata McGraw Hill.
Lehto, R.H. dan Stein, K.F. 2009. Death Anxiety: An Analysis of an Evolving Concept. Research and Theory for Nursing Practice. An International Journal, Vol. 23, No. 1, 2009.
Litot, Ed. 2010. When Death Comes As a Friend. USA: AuthorHouse
Monks, F. J. dkk. 2009. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Naderi dan Esmaili. 2009. Collet-Lester Fear of Death Scale Validation and Gender-Based Comparison of Death Anxiety, Suicide Ideation and Life Satisfaction. Journal of Applied Sciences 2009
Santrock. John W. 2004. A Topical Approach to Life-Span Development. New York: McGraw-Hill.
Kübler-Ross, E. 2011. Death and Dying. New York: Simon and Schuste
Paschoal et al., 2007. Development of elderly quality of life index – EQOLI: theoretical-conceptual framework, chosen methodology, and relevant items generation. PubMed 2007 Jun;62(3):279-88.
Schumaker , JF. et al. Death anxiety in Japan and Australia. J Soc Psychol. 1991 Aug;131(4):511-8.
Smith, Ingram, and Brighton. 2009. Detection and assessment of late-life anxiety. J Gerontol Nurs. 2009 Jul;35(7):9-15. doi: 10.3928/00989134-20090527-02.
World Health Organization. 2013. Mental health and older adults. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs381/en/ diakses 3 Nov 2014.

Oleh: Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners, M.Kep | 20 November 2010

‘HEALTHY SOUP’ Sup-nya Setan

Diambil dari ‘Buka Nuranimu Sobat!’ ditulis oleh Komputer Medan.

Setan Memang Sedang Naik Daun
Cerita ini ditulis oleh seorang wartawan di Taiwan sehubungan dengan adanya gosip mengenai makanan penambah kekuatan dan stamina yang dibuat dari sari/kaldu janin manusia. ‘Healthy Soup’ yang dipercaya dapat meningkatkan stamina dan keperkasaan pria terbuat dari janin bayi manusia berumur 6-8 bulan dapat dibeli per porsi seharga 3000-4000 RMB (mata uang setempat). Salah seorang pengusaha pemilik pabrik di daerah Tong Wan, Taiwan mengaku sebagai pengkonsumsi tetap ‘Healthy Soup’. Sebagai hasilnya, pria berusia 62 tahun menjelaskan khasiat ‘Healthy Soup’ ini mempertahankan kemampuannya untuk dapat berhubungan seks beberapa kali dalam semalam. Penulis diajak oleh pengusaha tersebut di atas ke salah satu restoran yang menyediakan ‘Healthy Soup’ di kota Fu San – Canton dan diperkenalkan kepada juru masak restoran tersebut. Kata sandi untuk ’Healthy Soup’ adalah BAIKUT. Juru masak restoran menyatakan jenis makanan tersebut tidak mudah di dapat karena mereka tidak tersedia ‘ready stock’. Ditambahkan pula bahwa makanan tersebut harus disajikan secara fresh, bukan frozen. Tetapi kalau berminat, mereka menyediakan ari-ari bayi (plasenta) yang dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual dan juga obat awet muda.
Juru masak restoran tersebut mengatakan jika memang menginginkan ‘Healthy Soup’, dia menganjurkan untuk datang ke sebuah desa di luar kota di mana ada sepasang suami istri yang istrinya sedang mengandung 8 bulan. Diceritakan pula bahwa si istri sebelumnya sudah pernah mengandung 2 kali, tetapi kedua anaknya lahir dengan jenis kelamin perempuan. Jika kali ini lahir perempuan lagi, maka ‘Healthy Soup’ dapat diperoleh dalam waktu dekat.
Cara pembuatan ‘Healthy Soup’, seperti yang diceritakan oleh jurnalis yang meliput kisah ini adalah sebagai berikut: Janin yang berumur beberapa bulan, ditambah Pachan, Tongseng, Tongkui, Keichi, Jahe, daging ayam dan Baikut, di tim selama 8 jam, setelah itu dimasak selayaknya memasak sup.
Beberapa hari kemudian seorang sumber menghubungi penulis untuk memberitahukan bahwa di Thaisan ada restoran yang sudah mempunyai stok untuk ‘Healthy Soup’. Bersama sang pengusaha, penulis dan fotografer pergi ke restoran di Thaisan untuk bertemu dengan juru masak restoran tersebut yang tanpa membuang waktu langsung mengajak rombongan untuk tour ke dapur. Di atas papan potong tampak janin tak bernyawa itu tidak lebih besar dari seekor kucing. Sang juru masak menjelaskan bahwa janin tersebut baru berusia 5 bulan. Tidak dijelaskan berapa harga belinya, yang pasti itu tergantung besar-kecil, hidup-mati janin tersebut dan sebagainya (Masya Allah!!!). Kali ini, harga per porsi ‘Healthy Soup’ 3,500 RMB karena stok sedang sulit untuk didapat. Sambil mempersiapkan pesanan kami, dengan terbuka juru masak tersebut menerangkan bahwa janin yang keguguran atau di gugurkan, biasanya mati, dapat dibeli hanya dengan beberapa ratus RMB saja, sedang kalau dekat tanggal kelahiran dan masih hidup, bisa semahal 2.000 RMB.
Urusan bayi itu diserahkan ke restoran dalam keadaan hidup atau mati, tidak ada yg mengetahui. Setelah selesai, ‘Healthy Soup’ disajikan panas di atas meja, penulis dan fotografer tidak bernyali untuk ikut mencicipi, setelah kunjungan di dapur, sudah kehilangan semua selera makan, maka cepat-cepat meninggalkan mereka dengan alasan tidak enak badan. Menurut beberapa sumber, janin yang dikonsumsi semua adalah janin bayi perempuan. Apakah ini merupakan akibat kebijaksanaan pemerintah China untuk mewajibkan satu anak dalam satu keluarga yg berlaku sampai sekarang, atau hanya karena kegemaran orang akan makanan sehat sudah mencapai suatu kondisi yang sangat terkutuk.

Oleh: Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners, M.Kep | 19 Juni 2010

7 KATA “UP” UNTUK SUKSES

1. WAKE UP (bangun). Tdk peduli berapa kali kita gagal, tapi jika kita lebih banyak bangun & memulai lagi,kita akan sukses.

2. DRESS UP (berhias). Kecantikan dr dalam jauh lebih penting drpd sekedar hiasan luar yg sementara, miliki mentalitas berkelimpahan, hasil dr suatu harga diri & rasa aman yg dalam..ini akan menghasilkan kesediaan utk berbagi penghormatan, keuntungan, dan tanggung jawab.

3. SHUT UP (berhenti bicara). Berhentilah bicara ttg kesuksesan masa lalu, sudah saatnya fokuskan diri utk kesuksesan masa depan.

4. STAND UP (berdiri). Berdirilah teguh pada keyakinan awal bahwa kita pasti berhasil.

5. LOOK UP (pandanglah). Saat peresmian Disney Land, seorg wartawan bertanya pada istri almarhum Walt Disney “Bagaimana perasaan Bapak saat melihat impiannya telah jadi kenyataan dgn dibukanya Disney Land ini?” Istri Walt Disney menjawab “Ia telah melihat ini semua terjadi jauh sebelum proyek ini terbentuk”..

Lihatlah semua impian kita dalam imajinasi kita seakan2 semuanya telah terjadi.

6. REACH UP (capailah). Capailah sesuatu yg lebih tinggi dari prestasi sebelumnya karena itu menandakan bahwa kita memang bertumbuh.

7. LIFT UP (naikkan). Naikkan semua impian kita dlm bentuk doa ucapan syukur seakan2 semua telah terjadi…

Semoga hari ini kita bisa sama2 belajar menanamkan semangat 7UP yang akan membantu kita & sesama mencapai sukses.:)..

(dikutip dari: Catatan Iin Std di Facebook: 7 KATA “UP” UNTUK SUKSES)

Oleh: Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners, M.Kep | 25 Mei 2010

International Nursing Conference and Workshop Patient Safety

Tema: “Excellent Quality of Nursing Care through Commitment on Patient Safety”. International Nursing Conference and Workshop ini akan diselenggarakan di Bandung (West Java) in 4-6 October 2010. Conducted collaboratively by Universitas Padjadjaran, Flinders University, STIK Immanuel, STIKES Santo Borromeus, STIKES UNJANI, Chulalongkorn University, AUAP (Association of Universities of Asia and the Pacific).

Call for free paper and poster presentation. Please visit our weblog: http://incwps.fkep.unpad.ac.id

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.