Oleh: Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners, M.Kep | 11 Maret 2010

DISKUSI MAHASISWA PERAWAT TENTANG ULASAN FILM SUSTER “NGESOT”


Kemarin saya membuat penugasan kepada mahasiswa saya (keperawatan) bukan tentang film-nya tetapi tentang salah satu ulasan mengenai film Suster Ngesot. Tugas yang agak aneh ya? Aku sendiri sih tidak pernah nonton film ini (judulnya saja tidak menarik atau bahkan juga aneh?!).
Sebelumnya sebagai bahan diskusi, saya print-kan ulasan tersebut yang saya ambil dari http://www.sinema-indonesia.com/neo/page/2/. Berikut saya copas-kan seperti dibawah ini:
Suster Ngesot (2007)
Posted by ferrysiregar on Sunday, 13 of May , 2007 at 4:56 pm

Ground Control to Major Dodi…
Ground Control to Major Dodi…
Where are you, Dod?
Elo janji elo yang bakal nge-review film horror setelah Angker Batu.
Kita nggak boleh ngebiarin pembaca kelamaan nunggu. Kita harus menyelamatkan mereka, Dod.
Yeah… gue tau elo bakal bilang “Buat apa mencoba kalau mereka nggak mau diselamatkan?”. Gue tau elo bakal bilang. segunung kancut pun kita kasih ke Suster Ngesot, orang-orang bakal tetep menuhin bioskop.
Tapi gue tetep ngerasa kita mesti terus nulis, Dod. Dan akhirnya kemarin gue nonton.

Lo tau nggak? Suster Ngesot adalah titik terendah dari sepak terjang para pedagang itu (bukan filmmaker) dalam memanfaatkan selera rendah dari sekelompok masyarakat yang kebetulan jadi group terbesar dalam demografi penonton bioskop Indonesia. Nia Ramasiapatuhnamanya can’t act. Yang lebih parah, Mike Lewis bahkan nggak bisa ngomong! Bahkan susternya aja nggak ngesot. Cuma tangannya doang yang ngeraba-raba kasur buat megang tangan korbannya. Itu pun nggak pernah berhasil. Pernah ada satu kali susternya nemplok di belakang mobil kayak cicak. Mungkin satu-satunya yang ngesot adalah IQ para pembuatnya.

Jadi ceritanya si Nia Ramasiapatuhanamanya jadi perawat dan tinggal di asrama perawat. Anehnya di asrama perawat itu kayaknya nggak ada yang ngerti hygene. Kamar mandi jorok banget! (Eh, elo masih pengen jadi perawat? Jangan masuk asrama situ, ya). Terus si Nia Ramasiapatuhnamanya nemuin buku. Di buku itu muncul huruf-huruf orang yang bakal mati. Pertama yang muncul huruf S. Laki-laki yang namanya Syamsul mati. Terus muncul huruf H. Yang namanya Hasan mati. Terus huruf I. Orang yang namanya Indira mati. tadinya gue berharap huruf berikutnya bakal T. Jadi tepat menggambarkan filmnya. SHIT. Ternyata bukan.

Asli jelek mampus, Dod. Maag gue sampai kambuh.
Elo balik dong, Dod. Elo mesti nge-review Malam Jumat Kliwon…

Temen elo,

Ferry

Demikian copas-nya. Lalu sebagai pemancing untuk diskusi, saya buat pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Jelaskan secara spesifik cerita di atas menyangkut KDM (kebutuhan dasar manusia) apa?
2. Bagaimana tanggapan Anda terhadap tulisan di atas?
3. Bagaimana kesan masyarakat terhadap citra perawat dalam tulisan itu?
4. Seharusnya bagaimana peran perawat?
5. Saran / solusi apa yang Anda pikirkan?
Pertanyaan-2-nya sedikit agak ‘maksa’ memang (alias kurang relevan). Namun, demikianlah hasil diskusi mereka:
Cerita di atas menyangkut KDM pemenuhan rasa aman dan nyaman, karena dalam cerita tersebut tertulis kamar mandi yang jorok. (Sebetulnya saya menghendaki jawaban mereka yang langsung mengarah kepada kebutuhan hygiene perorangan yang kurang terpenuhi dengan baik karena -tentu saja- hygiene lingkungan yang juga kurang baik; dimana disebutkan kamar mandi jorok sekali!).
Tulisan tersebut berisi cerita Ferry tentang film horor yang ditontonnya, dimana kesannya film itu tidak menarik dan tidak sesuai dengan judul filmnya yang menggambarkan keangkeran. Ferry juga menyarankan kepada temannya jika tetap ingin menjadi perawat janganlah masuk ke asrama (perawat) yang jorok seperti digambarkan pada film itu.
Dapat diambil kesimpulan bahwa kesan masyarakat adalah:
* Perawat itu seram dan menakutkan
* Perawat yang tinggal di asrama dengan kamar mandi yang jorok
* Perawat dianggap tidak bermutu
Adapun peran perawat seharusnya adalah:
* Memberikan contoh yang baik tentang kebersihan
* Perawat bisa bersahabat dan tidak menyeramkan
* Perawat merupakan suatu profesi yang layak untuk dihargai
Saran dari kelompok mahasiswa yang melakukan diskusi kelompok yaitu agar perawat dapat memberikan contoh yang nyata dalam kehidupan sehari-hari seperti:
0 berpenampilan bersih dan rapi
0 ramah terhadap semua orang
0 tepat tanggap terhadap situasi


Responses

  1. betul tuh mas… dunia film hanya mencitrakan perawat selalu dengan stigma negatif…
    mungkin kita musti buat fil sendiri kali ya… hehe..

    • Gak usah (krn belum tentu laku juga ‘kali!), sejawat kita di seantero tanah air berkarya dengan baik aja dlm melayani masyarakat, aku yakin masyarakat juga pada akhirnya yg akan membela kita🙂

  2. @andaners: gak usah, ntar gak kembali modal, kan yg menguntungkan yg negatif2 itu. kita masyarakat keperawatan melayani dengan baik saja klien2 kita, pada akhirnya klien2 kita juga yg akan berpihak kpd kita Perawat Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: