Oleh: Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners, M.Kep | 25 Januari 2010

PNEUMONIA


Dec, 2004 by: Marheny Valentina G.M.

I. Pengertian

Pneumonia adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut dengan tanda / gejala utama akibat radang pada parenkim paru.

Pneumonia adalah infeksi saluran nafas bagian bawah

Pneumonia adalah infeksi akut dari ruang alvioli paru-paru, dapat melibatkan seluruh lobus (pneumonia lobaris) atau lebih berbercak (lobuler), jika terbatas pada alvioli yang berdampingan dengan bronchi disebut broncho pneumonia.

II. Klasifikasi

  1. Berdasarkan berat ringannya penyakit, sesuai dengan beratnya sesak nafas dan keadaan umum
  • Pneumonia ringan: batuk dan sedikit sesak / takipneu tetapi masih aktif bermain, mampu makan dan tidur seperti biasanya
  • Pneumonia sedang-berat: sesak dengan retraksi otot pernapasan, lemah dan tidak mampu makan –minum sesuai kebiasaanya, serta gelisah.
  • Pneumonia sangat berat: sesak berat, penurunan kesadaran dan sianosis

2. Berdasarkan etiologi

  • Virus
  • Bakteri aerob: golongan stafilokokus, streptokokus, hemofilus, batang gram negatif, dan pneomokokus
  • Bakteri anaerob: peptostreptokokus, fusobakterium
  • Mikoplasma:  M. pneumonia, Jamur, Klamida

3. Berdasarkan lokalisasi kerusakan anatomis/perbedaan diagnostik fisis

  • pneumonia lobaris( broncho pneumonia)
  • pneumonia interstitial
  • pneumonia carinii/ pneumocystis
  • pneumonia legiola

III.  Stadium pneumonia bakterialis

  • Stadium hiperemi: mengacu pada respons peradangan, ditandai oleh peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Terjadi akibat pelepasan mediator- mediator peradangan dari sel- sel mast setelah pengaktifan imun dan cedera jaringan, perpindahan exudat plasma ke ruang interstitium, penimbunan cairan antara kapiler dan alveoli sehingga meningkatkan jarak yang ditempuh oleh oksigen dan korbondioksida untuk berdifusi sehingga saturasi oksigen dapat menurun.
  • Stadium hepatisasi merah: terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel- sel darah merah, exudat, dan fibrin
  • Stadium hepatisasi kelabu: terjadi sewaktu sel- sel darah putih mengkolonisasi bagian paru yang terinfeksi
  • Stadium resolusi: terjadi sewaktu respons imun dan peradangan mereda, sisa- sisa sel, fibrin, bakteri telah dicerna, makrofag, sel pembersih pada reaksi peradangan, mendominasi

IV.  Etiologi

Karena sulit mendapat bahan pemeriksaan, etiologi pneumonia sulit      dipastikan. Organisme penyebab tersering:

  • pada bayi 0-2 bulan: streptokokus grup B, enterokokus gram negatif, dan klamida
  • pada umur 2-60 bulan: pneumokokus, hemofilus influensa
  • anak sekolah-remaja: pneumokokus, mikoplasma pneumoniae
  • penderita immunodefisiensi
  • sedang mendapat steroid
  • antibiotika lama
  • nutrisi parenteral
  • sedang dipasang ventilator

–> dapat disebabkan oleh kokus/ batang gram negatif ((pseudomonas.sp, klebsiela pneumoniae, e. coli dan candida albicans).

V. Dasar diagnosis

  • tergantung umur
  • beratnya penyakit
  • jenis organisme penyebab

–> pada bayi/ anak kecil/ balita: pada auscultasi sering tidak jelas,  maka retraksi / tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam dipakai sebagai parameter.

Kriteria nafas cepat:

  • umur < 2 bulan: >/ 60 kali per menit
  • umur 2 bulan -< 12 bulan: >/ 50 kali per menit
  • umur 12 bulan –5 tahun: >/ 40 kali per menit

Klasifikasi

  • < 2 bulan pneumonia berat: nafas cepat +, retraksi +
  • bukan pneumonia nafas cepat: -, retraksi –
  • 2 bulan- 5 tahun pneumonia berat nafas cepat: +, retraksi +
  • pneumonia nafas cepat +, retraksi –
  • bukan pneumonia nafas cepat: -, retraksi: –

Kriteria lain paling sedikit 3 dari 5 tanda/ gejala:

  1. Sesak nafas disertai pernapasan cuping hidung dan tarikan dinding dada
  2. Panas badan
  3. Ronki basah sedang nyaring pada “broncho pneumonia” atau suara bronkial: nada pekak
  4. Foto thoraks: infiltrat berupa bercak-bercak (broncho), difuse merata/ pada satu atau beberapa lobus
  5. Leukositosis

Dapat ditemukan tanda / gejala penyakit penyerta, pada bayi yang tidak panas dengan takipneu, batuk disertai dengan riwayat rinitis dan conjunctivitis è harus dipikirkan pneumonitis klamidia

VI. Diagnosis banding

  • Berdasarkan etiologi
  • Atlektasis

VII. Gambaran klinis

  • Demam dan menggigil akibat proses peradangan
  • Batuk yang sering produktif dan purulen
  • Sputum berwarna merah karat untuk streptokokus pnemoniae
  • Sputum berwarna merah muda untuk streptokokus aureuss
  • Sputum berwarna hijau dan bau khas untuk pseudomonas aeruginosa
  • Krekel / bunyi napas tambahan
  • Rasa lelah akibat reaksi radang dan hipoksia
  • Nyeri pleura dan edema
  • Respon subjektif dispneu
  • Timbul tanda-tanda sianosis
  • Ventilasi berkurang
  • Hemoptisis, batuk darah

VIII. Pemeriksaan Penunjang

  • Foto thorax posisi PA dan lateral
  • Kultur darah dan tes sensitivitas (darah diambil sebelum pemberian antikbiotika)
  • Analisa gas darah
  • Elektrolit serum
  • Sel darah putih biasanya meningkat kecuali pada pasien imunodefisiensi (pada pneumonia bakterialis)
  • Edema runag interstisium sering tampak pada sinar X thorax

IX. Penyulit

  • Empiema
  • Abses paru
  • Pneumo thorax
  • Efusi perikardial

X. Penatalaksanaan

  1. Antibiotika
  2. Istirahat
  3. Hidrasi untuk mengencerkan sekret
  4. Teknik bernapas untuk meningkatkan ventilasi alveolus dan menurunkan resiko atlektasis
  5. Obat-obatan spesifik untuk mikroorganisme yang diidentifikasi dari biakkan sputum

Terapi

  1. Sebelum memberikan obat-obat ditentukan dahulu berat ringannya penyakit
  2. Riwayat pengobatan sebelumnya dan respon terhadap pengobatan tersebut
  3. Adanya penyakit yang mendasari
  4. Pemberian antibiotik (dalam 24-72 jam pertama)
  • Umur 1-2 bulan: Ampisilin + Aminoglikosida (Gentamisin)

Kalau respon baik, lanjutkan 10-14 hari

  • Umur > 2 bulan: Penisilin / Ampisilin + Klorampenikol

Kalau respon baik, lanjutkan sampai dengan 3 hari klinis sembuh (biasanya cukup 5-7 hari)

  • Pasien inmunodefisiensi / ada penyakit lain: Ampisilin + Aminoglikosida (Gentamisin)
  • Hipersensitif terhadap penisilin / ampisilin: Eritromisin, sefalosporin (5-16 % ada reaksi silang) / linkomisin / klindamisin

Antibiotik selanjutnya :

  • Atas dasar pemantauan ketat terhadap respon klinis 24-72 jam pengobatan antibiotik awal
  • Bila ada perbaikan: Antibiotik teruskan sampai dengan 3 hari klinis perbaikan
  • Pneumokokus (cukup 5-7 hari), bayi kurang dari 2 bulan 10-14 hari
  • Bila bertambah berat, atau tidak menunjukkan perbaikan dalam 72 jam –> Antibiotik awal di stop ganti antibiotik lain yang lebih tepat / yakinkan dulu tidak ada penyulit seperti : Empiema, abses
  • Antibiotik pengganti tergantung pada kuman penyebab
  • Pnemokokus: 3-16 % sudah resisten diganti dengan: Sefuroksim, sefotaksim, linkomisin / fankomisin
  • H. Influensa: Ganti dengan sefuroksim, sefasolin, sefataksim, eritromisin, linkomisin / klindamisin
  • S. Aureuss : Ganti dengan kloksasilin, dikloksasilin, flukloksasilin, sefasolin, klindamisin / linkomisin
  • Batang gram negatif: Aminoglikosida (Gentamisin, Amikasin)
  • Mikoplasma:  Eristromisin, tetrasiklin (untuk anak > 8 tahun)
  • Simtomatik ( untuk panas dan batuk) sebaiknya tidak diberikan terutama pada 72 jam pertama karena dapat mengacaukan interpretasi reaksi terhadap antibiotik awal.
  • Suportif: oksigen lembab 40 % nasale sampai dengan sesak hilang ( analisa gas darah: Pa O2 >/ 60 Torr)
  • Cairan, nutrisi dan kalori yang memadai: melalui oral, intra gastrik, dan infuse , jenis infuse disesuaikan dengan “keseimbangan elektrolit” seperti larutan 1:4 ( 1 bagian Na Cl fisiologis + 3 bagian D 5%)
  • Asidosis (Ph < 7,30) diatasi dengan bikarbonat intra vena, dosis awal: 0,5*0,3*defisit basa*BB (kg) è mEq, dosis selanjutnya tergantung hasil pemeriksaan Ph dan kelebihan basa (base exess), 4-6 jam setelah dosis awal, bila Ph dan kelebihan basa tidak dapat diperiksa: berikan bikarbonat intra vena: 0,5*2-3mEq * B.B (kg) sebagai dosis awal, dosis selanjutnya tergantung gambaran klinis 6 jam setelah dosis awal.
  • Fisiotherapi

XI. Prognosis

Tergantung pada ada tidaknya penyulit, penyakit yang mendasari, cepat dan tepatnya antibiotika yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arguedas, A.G, Stutman, H.R, Marks, M.I. 1990. Bacterial pneumonias. Kendig,s disorders of respiratory tract for children ed 5. Philadelpia: W.B Saunders
  2. Carpenito, L.J 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC
  3. Chin, T.W, Nussbaum, E.1993. Bacterial pneumonia. Pediatric respiratory disease: diagnosis and treatment. Philadelpia: W.B Saunders
  4. Corwin, E . J. 2001. Patofisiologi. Jakarta: EGC
  5. Garna, H., Suroto, E, Melinda, H. 2000. Pedoman Diagnosis dan Therapi Ilmu Kesehatan Anak edisi 2. Bandung: SMF Ilmu Kesehatan Anak FKUP/RSHS
  6. Price, S.A, Wilson, L.M. 1995. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Patofisiologi buku 4 edisi 11. Jakarta: EGC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: