Oleh: Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners, M.Kep | 21 Januari 2010

INFORMED CONSENT (MEDIS)


Dasar pelaksanaan Informed Consent adalah bahwa pasien berhak atas informasi tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya, risiko bila dilakukan tindakan atau bila tidak dilakukan, keuntungan (benefit) bila dilakukan tindakan, atau alternatif-alternatif yang tersedia.

Tujuan Informed Consent adalah melindungi hak individu untuk menentukan nasibnya sendiri (self-determination)

Terdapat 3 issue yang harus diperhatikan menyangkut Informed Consent:
1. Kapasitas seseorang untuk memberikan consent atau persetujuannya (penurunan kesadaran, dibawah umur, dll.)
2. Pengungkapan optimal terhadap informasi yang relevan (informasi yang harus diberikan, diberikan dengan sejelas-jelasnya)
3. Adalah kebebasan individu untuk membuat keputusan atau menentukan pilihannya (untuk setuju atau untuk tidak setuju)

Atau dengan kata lain bahwa Informed Consent sah apabila:
1. Informasi yang harus diberikan telah diberikan
2. Persetujuan dibuat dengan sukarela
3. Pasien mempunyai kapasitas atau kapabilitas untuk membuat keputusan

Menyangkut informed consent tindakan medis (persetujuan tindakan operasi misalnya):
1. Penjelasan tindakan (hendaknya harus) dilakukan oleh dokter
2. Kedudukan perawat adalah sebagai saksi (witness) bahwa penjelasan telah diberikan kepada pasien dan atau keluarga, sehingga perawat (sebaiknya) paling akhir membubuhkan tandatangan setelah “tokoh-tokoh utama” dalam hal ini: dokter, pasien dan atau keluarga.

Bila perawat tidak ada ketika dokter memberikan penjelasan tindakan, sementara tandatangannya dibutuhkan sebagai saksi, adalah bijaksana apabila perawat melakukan konfirmasi kepada pasien dan atau keluarga serta “menguji” sejauh mana pemahaman tentang tindakan itu, barulah setelah memperoleh keyakinan bahwa betul pasien dan atau keluarga telah diberi penjelasan perawat dapat memberikan tanda tangannya.
Ketika dokter menyatakan akan melakukan tindakan tertentu kepada pasien, sebaiknya tidak perawat yang menyampaikan kepada pasien dan atau keluarga. Perawat hendaknya memfasilitasi agar pasien dan atau keluarga dapat bertemu dengan dokter untuk diberi penjelasan atau bila itu pertelepon, fasilitasi agar pasien (keluarga) dapat berbicara langsung dengan dokter melalui telepon agar dapat diberi penjelasan.

Sekian

Semoga bermanfaat …

(Disusun dari berbagai sumber)


Responses

  1. biaya berobat bgi org mampu di tanggung jamkesmas
    heheehehe🙂,bnyk yah skrg org mampu mndadak miskin
    org kurng mampu mengalah jdi kaya….:D
    Dari : bogor


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: