Oleh: Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners, M.Kep | 21 Januari 2010

BIAYA BEROBAT BAGI YANG KURANG MAMPU SEHARUSNYA DITANGGUNG NEGARA


Belum lama ini telah berlangsung pertemuan Aliansi Keperawatan Forum Kerjasama Aktualisasi Spiritual CB – Dialog Aktualisasi Spiritual CB (disingkat dengan Forum KAS-DIAS CB) yang kali ini bertempat di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung. Pertemuan ini berlangsung selama 2 hari yaitu tanggal 25 – 26 Februari 2005.
Forum KAS-DIAS CB sendiri adalah suatu forum untuk saling tukar informasi antar rumah sakit – rumah sakit Katolik yang cikal bakal atau pendirinya dahulu diawali oleh karya para suster-suster biarawati dari ordo Carolus Borromeus (atau disingkat CB). Forum ini antara lain terdiri dari Pelayanan Kesehatan Sint Carolus (Jakarta), RS. Panti Rapih (Jogjakarta), dan Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus (PPSB) Bandung yang terdiri dari RS. Santo Borromeus, RS. Santo Yusup, RS. Sekar Kamulyan (Kuningan-Jawa Barat), Akademi Perawatan (Akper) Santo Borromeus, dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) Surya Sumirat. Sedangkan peserta yang terlihat hadir pada pertemuan kali ini selain dari institusi-institusi di atas, juga dihadiri oleh perawat yang tergabung dalam Tim Pembangunan RS. Cahya Kawaluyaan yaitu unit operasional PPSB yang baru yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan di daerah Padalarang.
Pertemuan ini secara resmi dibuka oleh Bapak Hiro Tugiman selaku Ketua PPSB dan tuan rumah penyelenggaraan pertemuan Aliansi Keperawatan Forum KAS-DIAS CB kali ini. Dalam sambutannya, Bapak Hiro Tugiman yang juga seorang Guru Besar Universitas Katolik Parahyangan ini mengatakan bahwa pengertian rumah sakit sesungguhnya adalah rumah untuk merawat orang sakit, jadi inti pelayanannya adalah pada orang-orang yang menamakan dirinya sebagai profesi perawat. Pelayanan keperawatan yang bermutu tinggi sudah harus diberikan sejak seorang pasien datang ke pelayanan gawat darurat. Beliau menambahkan bahwa potensi ‘complaint’ lebih besar apabila perawat melayani dengan tidak baik di Unit Gawat Darurat dari pada di ruang rawat inap, bahkan dapat sampai menuliskan keluhannya di surat kabar.
Forum KAS-DIAS CB ini sendiri menurut Sr. Constantia CB, S.Kep.,Ners. yang selain sebagai salah seorang anggota panitia penyelenggara kegiatan ini juga menjabat sebagai Wakil Direktur Perawatan RS. Sekar Kamulyan Kuningan-Jawa Barat ketika dihubungi melalui telepon selularnya mengatakan bahwa pertemuan ini diadakan tiap tahun. Tempat penyelenggaraan pertemuan berganti-ganti antara Bandung, Jakarta dan Jogjakarta, sesuai dengan asal institusi yang tergabung di dalamnya.
Bagi para perawat, Forum KAS-DIAS CB ini juga merupakan salah satu ajang tukar informasi tentang bidang keperawatan. Pertemuan 2 hari yang khusus membicarakan tentang keperawatan ini diisi dengan presentasi dari berbagai pakar keperawatan dari masing-masing rumah sakit yang berbagi pengalaman tentang pengelolaan keperawatan di rumah sakitnya. Topik-topik yang kali ini terlihat sangat diminati oleh para peserta adalah yang menyangkut Komite Keperawatan dan Jenjang Fungsi Keperawatan yang disampaikan oleh para pakar keperawatan dari PK Sint Carolus. Harus diakui bahwa pengelolaan maupun pengembangan keperawatan di PK Sint Carolus Jakarta telah jauh lebih maju bila dibandingkan dengan rumah sakit-rumah sakit lainnya yang tergabung dalam Forum KAS-DIAS CB ini, bahkan konon mendapat nilai tertinggi secara nasional khusus untuk bidang keperawatan dalam penilaian akreditasi rumah sakit yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan (Depkes) Pusat.
Yang menarik, pada hari ke-2 pertemuan kali ini juga diisi dengan presentasi bertajuk Perumahsakitan di Indonesia; Saat Ini dan Masa Datang, yang disampaikan oleh Profesor Amal C. Sjaaf; seorang guru besar dari Universitas Indonesia Jakarta. Profesor yang ‘orang awak’ ini memaparkan angka-angka yang menunjukkan makin besarnya biaya-biaya Belanja Perawatan (di rumah sakit oleh masyarakat), Belanja Obat Nasional, Belanja Kesehatan Nasional dari tahun ke tahun. Data terakhir yang dimiliki Prof. Amal menunjukkan bahwa Belanja Kesehatan Nasional tahun 2002 adalah diatas 53 trilyun rupiah, dan ini belum termasuk belanja kesehatan WNI di luar negeri. Menurut beliau, belanja kesehatan WNI di luar negeri sekitar 400 juta US dolar setahun (tahun 2000) dan terus meningkat 10%-15% per tahun sehingga diprediksi pada 2004 yang lalu mendekati 600 juta US dolar. Dengan alasan klasik yaitu menyangkut mutu pelayanan yang rendah, banyak WNI yang berobat ke luar negeri yang tentu saja memberikan keuntungan terutama bagi negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Singapura sendiri tahun 2004 menghasilkan devisa negara 500 juta US dolar dan diperkirakan 75% (atau 375 juta US dolar) berasal dari WNI, sedangkan Malaysia mengalami peningkatan pendapatan dari layanan kesehatan internasional yaitu mulai dari angka 30 juta US dolar hingga ditargetkan 120 juta US dolar mulai 2005 ini dengan prediksi 75% – 85% dari Indonesia. Ironisnya, cukup banyak dokter di Malaysia yang adalah alumni dari Fakultas Kedokteran di Indonesia termasuk juga dari Universitas Padjajaran. Prof Amal dalam presentasinya mengatakan,” Rasanya saya mau menangis tetapi tidak bisa, ketika membaca di suatu surat kabar bahwa seorang rektor universitas di Bali mengatakan sangat bangga dapat menerima dan mendidik mahasiswa kedokteran yang berasal dari Malaysia”. Padahal, tambahnya lagi, negara-negara tetangga telah menghitung secara cermat bahwa akan sangat besar biaya yang dibutuhkan untuk mendirikan dan menghidupi suatu fakultas kedokteran di dalam negeri, lebih menguntungkan bila mengirim warga negaranya untuk menjalani pendidikan kedokteran di Indonesia. Selain itu, biaya pendidikan di Indonesia relatif murah karena sama dengan WNI. Artinya biaya kuliah WNI dengan yang bukan WNI adalah sama, berbeda bila studi di Amerika atau di Eropa dimana terdapat ketentuan bahwa biaya pendidikan untuk warga negara asing jauh lebih mahal daripada warga negaranya sendiri. Ironisnya lagi, setelah menyelesaikan pendidikan dokternya di Indonesia, mereka melanjutkan ke pendidikan spesialis di negara lain yang telah lebih maju ilmu kedokterannya, dan akhirnya setelah menjadi dokter ahli selain bekerja di negaranya sendiri, juga berekspansi ke negara-negara berkembang (termasuk Indonesia). Lalu, siapakah dokter umum-dokter umum yang bekerja di perkebunan-perkebunan kelapa sawit dan “puskesmas-puskesmas”-nya Malaysia? Tidak lain yaitu orang Indonesia.
Satu lagi yang menarik dari presentasi Prof. Amal adalah ketika beliau mengatakan bahwa rumah sakit yang non-profit atau nirlaba tidak ditabukan untuk mempunyai keuntungan atau sisa hasil usaha (SHU) pada setiap tahunnya. Bedanya dengan rumah sakit yang nyata-nyata komersial atau ‘for profit’ yaitu keuntungan yang diperoleh tidak dibagi-bagikan kepada pemilik modal tetapi dikembalikan kepada organisasi untuk pengembangan organisasi rumah sakit itu sendiri. Terakhir Prof. Amal mengatakan bahwa rumah sakit (swasta) tidak wajib membiayai pelayanan kesehatan terhadap orang-orang miskin, tetapi rumah sakit wajib melayani orang-orang miskin tentu saja atas biaya negara. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menyebutkan bahwa orang miskin (dan anak terlantar) menjadi tanggungjawab negara. (Semoga saja dana kompensasi dari kenaikan BBM bisa dipakai untuk ini, ya Prof.)

SEKIAN
(Keterangan: tulisan ini dibuat pada tahun 2005)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: