Oleh: Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners, M.Kep | 30 Desember 2009

KERACUNAN JAMUR (Suatu tinjauan epidemiologi)


Bahan

  1. Satu Keluarga Keracunan Jamur; Tribun Jabar Minggu 7 Juni 2009 (artikel terlampir)
  2. Belasan Santri di Purbalingga Keracunan Jamur; Sindo Selasa 4 Maret 2008 (artikel terlampir)
  3. Lima Warga Sukabumi Diduga Keracunan Jamur; Sindo Senin 16 Februari 2009 (artikel terlampir)

Indikator Permasalahan Yang Ada

1. Satu Keluarga Keracunan Jamur

    Satu keluarga warga Kampung Tanjung RT. 05 / RW. 06, Desa Tanjung Sari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung) dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soreang karena keracunan setelah menyantap jamur merang.

    Penyebab kejadian: mengonsumsi jamur merang yang ditemukan di sawah yang ternyata merupakan jamur beracun.

    2. Belasan Santri di Purbalingga Keracunan Jamur

      Sebanyak 12 santri pondok pesantren (Ponpes) Mabaul Ulum Desa Tunjungmuli, Kec. Karangmoncol, Purbalingga, keracunan makanan yang diduga berasal dari bahan jamur So (jamur di pohon melinjo).

      Penyebab kejadian: para santri mengambil umbi talas (kimpul) dan jamur So yang kemudian kimpul dan jamur tersebut dimasak sebagai sayur dengan bumbu garam, bawang merah, bawang putih, cabe dan kecap. Sayur tersebut dikonsumsi oleh para penghuni ponpes dan kemudian mengalami gejala keracunan berupa rasa mual, muntah-muntah dan mata berkunang-kunang.

      3. Lima Warga Sukabumi Diduga Keracunan Jamur

        Lima warga Kampung Bolenglang RT 03/07, Desa Cirenghas, Kec. Sukaraja, Kab. Sukabumi, dilarikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Cianjur, Mereka diduga mengalami keracunan, sesaat setelah mengonsumsi jamur yang diolah menjadi masakan.

        Penyebab kejadian: warga mengonsumsi jamur rampak putih yang dimasak dengan cara ditumis sebagai pelengkap sarapan pagi. Beberapa jam setelah mengonsumsi makanan tersebut, satu per satu dari lima warga yang mengonsumsinya mulai merasakan pusing-pusing dan kemudian muntah-muntah.

        Apa Yang Diketahui

        Dari ketiga topik permasalahan (atau artikel) di atas dapat diketahui tentang beberapa hal yakni:

        • Masyarakat sebetulnya cukup akrab dengan jamur sebagai bahan makanan terbukti dengan mereka merasa yakin bahwa mengonsumsi jamur yang memang biasa dikonsumsi oleh masyarakat seperti: Jamur Merang (topik ke-1), Jamur So (topik ke-2), dan Jamur Rampak Putih (topik ke-3). Namun kemungkinan besar mereka telah mengonsumsi jamur beracun dan ’tertipu’ dengan mengonsumsi jamur yang tampaknya serupa tapi tak sama dengan Jamur Merang, Jamur So, dan Jamur Rampak Putih.
        • Kejadian keracunan sesudah mengonsumsi jamur cukup sering terjadi di negara ini. Tampaknya informasi mengenai jamur yang dapat dikonsumsi belum tersosialisasikan dengan baik di masyarakat, terlebih masyarakat pedesaan yang memang biasa dan lebih banyak mengkonsumsi jamur sebagai makanan. Tampaknya masyarakat belum dapat mengetahui dan mengenali secara pasti yang mana jamur beracun dan yang mana tidak.
        • Masyarakat belum pernah mendapatkan penjelasan secara baik dari dinas pertanian atau dinas kesehatan tentang jamur (yang dapat dikonsumsi maupun yang tidak dapat dikonsumsi). Pengetahuan tentang jamur yang didapat lebih karena pengalaman sebelumnya dari orang lain (empiris).
        • Dari ketiga artikel dapat ditarik kesimpulan bahwa umumnya masyarakat yang mengonsumsi jamur adalah masyarakat dengan latar belakang status sosial ekonomi yang rendah serta umumnya adalah masyarakat pedesaan.

        Apa Yang Perlu Diketahui

        Tidak dapat dipungkiri bahwa jamur merupakan bahan makanan yang cukup digemari oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia. Ada beragam jenis masakan yang berasal dari jamur semisal Cah Jamur, Oseng-oseng Jamur, dan lain-lain. Meskipun dikonsumsi oleh berbagai kalangan namun umumnya kelompok masyarakat urban dan dengan status sosial ekonomi menengah ke atas cenderung mengonsumsi jamur yang relatif aman karena berasal dari hasil budidaya dan dibeli di pasar swalayan yang tentu menyediakan jamur yang aman dikonsumsi. Sedangkan masyarakat pedesaan umumnya mengonsumsi beragam jenis jamur yang jenisnya diketahui secara turun temurun, dan umumnya tidak dibudayakan tetapi mengambil dari yang tumbuh secara alami. Oleh karena itu penting sekali untuk memberikan penyuluhan tentang jamur kepada masyarakat. Informasi apa yang perlu diketahui masyarakat agar tidak mengalami kejadian keracunan jamur antara lain berupa:

        1. Pengetahuan tentang jenis-jenis jamur yang dapat dikonsumsi dan tidak, ciri-ciri jamur beracun atau tidak beracun,
        2. gejala keracunan, serta
        3. penanganan atau pertolongan pertama bila diduga mengalami keracunan jamur.

        Isu-Isu Belajar

        • Kenali jenis-jenis jamur beracun atau tidak beracun.

        Apakah bentuk, warna, atau tempat tumbuhnya dapat dijadikan acuan untuk menentukan suatu jenis jamur beracun atau tidak? Jawabnya, ya. Meski harus diakui, sampai saat ini, melihat dari sisi penampilan saja belum cukup, apalagi jika dijadikan acuan untuk membedakan tingkat keamanan sebuah jamur. Cara ini juga tidak dapat menjadi pedoman yang harus dipercaya 100%. Ketika kita menemukan jamur jenis baru di pekarangan atau saat berkemah di tengah hutan, misalnya.

        Namun setidaknya, masih ada filter yang dapat mencegah masuknya racun jamur ke dalam perut. Dari beberapa panduan sederhana yang biasa digunakan oleh para penjelajah hutan, misalnya, atau adopsi dari mata ajaran survival para calon prajurit pasukan elite di luar maupun dalam negeri, terungkap adanya beberapa pedoman yang dapat dijadikan bekal dalam menghadapi racun jamur.
        Pelajaran itu memberikan pengetahuan bahwa jenis jamur beracun pada umumnya memiliki warna cukup mencolok mata. Misalnya, merah darah, hitam, cokelat, hijau tua, biru tua, dan sejenisnya. Sebaliknya, menurut pelajaran ini, jamur-jamur berwarna terang tergolong ke dalam kelompok yang dapat dimakan.
        Namun, teori warna ini juga ada pengecualiannya. Sepanjang pengetahuan para ahli, jamur Shiitake ternyata tidak mengandung racun, padahal ia berwarna cokelat. Begitu juga dengan sejumlah jamur berkulit terang, di kemudian hari ternyata diketahui mengandung racun.

        Jamur beracun biasanya juga memiliki ciri lain, yaitu berbau busuk akibat senyawa sulfida di dalamnya. Jamur beracun juga mengandung senyawa sianida yang membuat berbagai serangga atau binatang kecil lainnya juga enggan untuk hinggap atau berada di jamur itu. Jadi untuk mudahnya, bila lalat dan serangga lainnya saja menjauh, masak kita mau mendekat, bahkan mengolahnya menjadi santapan kita?

        Ciri lainnya, jika jamur beracun dikerat, kemudian dilekatkan dengan benda yang terbuat dari perak asli (pisau, sendok, garpu, atau cincin), pada permukaan benda-benda itu akan muncul warna hitam (karena sulfida) atau kebiruan (karena sianida). Cara ini cukup efektif jika kita cuma punya sedikit waktu untuk menentukan suatu jamur beracun atau tidak saat sedang berkemah atau mendaki gunung, misalnya. Namun, bila mempunyai waktu yang panjang dan mau sedikit repot, tips turun-temurun dari sejumlah desa di Nusantara ini layak dicoba. Untuk memastikan ada tidaknya racun, kita masak atau pepes saja jamur yang dicurigai bersama nasi putih. Jika warna nasi berubah menjadi cokelat, kuning, merah, atau hitam, besar kemungkinannya jamur itu beracun. Keruan, bukan cuma jamurnya yang harus dihindari, nasinya pun tak boleh disantap lagi.

        Selain mengenali jamur beracun atau tidak dari warnanya, berikut beberapa ciri umum yang membedakan jamur beracun dan tidak beracun:

        • Jamur beracun biasanya mempunyai cincin atau cawan. Tetapi khusus untuk beberapa jamur itu tak berlaku, seperti pada jamur merang yang memiliki cawan dan campignon yang bercincin.
        • Bau jamur yang beracun selalu menusuk. Bisa seperti bau telur busuk atau seperti bau amoniak.
        • Jamur beracun biasanya tumbuh di tempat yang kotor.
        • Jamur beracun akan cepat menimbulkan karat pada pisau yang dipakai mengeratnya. Namun, jika pisau yang dipakai terbuat dari perak, warna hitam atau biru tua akan segera muncul.
        • Jamur beracun berubah warna dengan cepat pada waktu pemanasan dan pemasakan.
          • Gejala Keracunan

        Ketika seseorang mengalami keracunan jamur banyak vareasi gejala yang mungkin dialaminya. Gejala-gejala itu dapat berupa:

        • Sakit pada bagian perut
        • Wajah pucat
        • Berkeringat dingin
        • Mual, bahkan muntah
        • Tubuh lemas terkadang disertai kejang-kejang
        • Bibir kering
        • Mata berkunang-kunang
        • Pingsan, bahkan
        • Meninggal dunia
        • Penanganan

        Penanganan atau pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada kejadian keracunan jamur yaitu:

        • Jangan banyak bergerak
        • Minum air putih sebanyak-banyaknya untuk mencegah dehidrasi
        • Bawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat

        Kesimpulan Dari Isu Belajar

        Mengingat banyaknya kejadian keracunan diberbagai daerah di Indonesia perlu dilakukan penyebar-luasan informasi tentang jenis-jenis jamur dan ciri-ciri jamur yang beracun dan tidak beracun.

        Juga mengingat banyaknya kejadian keracunan jamur di Indonesia penting juga untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang gejala-gejala keracunan dan bagaimana penanganan atau pertolongan pertama bila mengalami keracunan jamur.

        Pustaka Yang Digunakan

        • Sindo Selasa 4 Maret 2008
        • Sindo Senin 16 Februari 2009
        • Syaifulloh Noor. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
        • Tribun Jabar Minggu 7 Juni 2009
        • www.palabs.or.id: Mengenal Jamur Pencabut Nyawa

        Responses

        1. Y smoga sblum makan jamur yg tdk diknal lbh baex qt tliti dlu,ok.


        Tinggalkan Balasan

        Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

        Logo WordPress.com

        You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

        Gambar Twitter

        You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

        Foto Facebook

        You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

        Foto Google+

        You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

        Connecting to %s

        Kategori

        %d blogger menyukai ini: