Oleh: Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners, M.Kep | 4 September 2008

PERAWAT DI KAPAL PELNI


Oleh: Ferdinan Sihombing

Suatu hari di awal bulan Juli 2008 berangkatlah saya menuju kota Belinyu di Propinsi Bangka Belitung; kota kecil dimana aku dilahirkan. Karena tidak tergesa-gesa, ketika itu kuputuskan untuk pulkam (pulang kampung) tidak naik pesawat tetapi naik kapal PELNI yaitu KM. Bukit Raya nama kapalnya.

Sesuai yang tertera di tiket semestinya kapal dijadwalkan berangkat pukul 17.00 dari Tanjung Priok Jakarta menuju Pelabuhan Belinyu. Namun, yang terjadi kemudian adalah kapal baru bertolak dari Tanjung Priok sekitar pukul 01.30 keesokan harinya. “Pengiriman bahan bakarnya terlambat sehingga pengisian ke kapalnya juga terlambat,” demikian kata salah satu awak kapal.

Beruntung kapal terlambat berangkat. Salah seorang penumpang kapal yang sama-sama naik kapal dari Tanjung Priok ternyata sedang sakit. Seat (tempat tidur di kapal) kami bersebelahan. Penumpang ini bernama Bapak Mursidi usia 71 tahun berasal dari Kroya. Tujuan Pak Mursidi adalah Pulau Kijang (di Propinsi Riau (?); 1 hari perjalanan lagi dari Pelabuhan Belinyu di Pulau Bangka tempat tujuanku.

Pak Mursidi mengeluh nyeri perut bagian bawah dan bolak-balik ke wc karena buang air kecil yang tidak tuntas. “Tidak bisa kencing” katanya ketika kutanya. Rupanya sejak di Pelabuhan Tj. Priok Pak Mursidi telah mengalami gangguan berkemih ini dan telah sempat ditolong di Pos Kesehatan di pelabuhan, tetapi tidak banyak menolong.

Setelah naik ke kapal, Pak Mursidi semakin mengalami kesakitan karena sulitnya berkemih. Saya telah curiga terhadap gangguan yang dialami oleh Pak Mursidi. Tidak lama seorang petugas kesehatan di kapal datang, rupanya keluarga Pak Mursidi melapor ke klinik yang ada di kapal. Semula saya menduga bahwa petugas ini adalah seorang dokter. Ia datang dengan membawa sebuah tensimeter dan stetoskop. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan ia mengatakan kepada keluarga dari Pak Mursidi untuk turun ke dari kapal untuk membeli obat dengan nama Lxxxx suatu jenis diuretika. Karena berada dekat dengan tempat tidur Pak Mursidi sehingga saya dapat mengetahui interaksi mereka. Saya merasa bahwa advis petugas tersebut tidaklah tepat sehingga saya kemudian tergerak untuk ‘ikut campur’.

“Maaf, kalau boleh ijinkan saya untuk membantu”, kataku kepada petugas tsb. Dia bertanya apakah saya seorang dokter, saya jawab: No, I am a nurse. Anda?  Saya juga perawat katanya, kami bersalaman sambil ia mempersilahkan saya untuk membantu.

Aku melakukan beberapa pemeriksaan dan anamnesa. Selesainya kukatakan pada sejawat yang bernama A ini bahwa Pak Mursidi mengalami pembesaran kelenjar prostat, dan pilihan untuk memberikan diuretik adalah tidak tepat. “Kita harus melakukan kateterisasi”, kataku sambil bertanya apakah peralatannya di atas kapal tersedia. Di luar dugaan, ternyata tidak tersedia. Lalu sejawat A mengatakan kepada keluarga bahwa beberapa peralatan harus segera dibeli di darat dan saya catatkan di kertas apa saja yang harus dibeli untuk kateterisasi urin. Singkat cerita, sesudah peralatan tersedia, aku juga melakukan pemasangan ‘kateter tetap’ di klinik dan untuk sementara masalah Pak Mursidi teratasi sudah.

Dari sejawat A yang alumni Akper YBS Medan ini saya mengetahui bahwa di atas kapal tidak ada dokter dan peralatan di klinik pun sangat terbatas. Perawat di atas kapal terpaksa berperan sebagai ‘dokter’.  Hebatnya, kapal tidak boleh berangkat bila tidak ada perawat di atas kapal, meskipun sempat juga sejawat -yang terhitung masih junior-  ini mengatakan bahwa bayarannya tidaklah seberapa bila dibandingkan perawat pada umumnya yang bekerja di darat. Dalam hatiku belum tentu juga bung A. Negara republik kita yang tercinta ini belum berpihak kepada perawat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: