Oleh: Ferdinan Sihombing | 29 Desember 2009

Implementasi Patient Safety di Poliklinik


Penerapan patient safety adalah bersifat menyeluruh di seluruh bagian di rumah sakit, oleh karenanya termasuk juga di Bagian Poliklinik. Perawat di Poliklinik terlibat dalam seluruh aspek patient safety yang meliputi:  (1) memberi informasi kepada pasien dan keluarganya tentang risiko dan menurunkan risiko, (2) advokasi keselamatan pasien, dan (2) membuat laporan peristiwa yang tidak diharapkan (adverse event).

Unit-unit atau Bagian-bagian di rumah sakit dengan banyak prosedur atau tindakan di dalamnya mengandung konsekuensi risiko terjadinya kesalahan juga lebih banyak. Pelayanan kesehatan yang melibatkan aspek kolaborasi antar banyak tenaga kesehatan juga mempunyai dampak terhadap peningkatan potensi terjadinya kejadian yang tidak diharapkan. Sifat pelayanan Poliklinik sendiri tidak termasuk keduanya yaitu tidak banyak tindakan ataupun tidak banyak kolaborasi, namun kejadian-kejadian yang tidak diharapkan tetap saja ada meskipun tidak sering.

Seperti telah menjadi suatu tradisi, seringkali laporan kejadian yang tidak diharapkan ada atau dibuat –biasanya dalam bentuk suatu berita acara– namun jarang dianalisis sehingga kurang bermakna untuk pembelajaran. Padahal dalam program keselamatan pasien adanya KTD digunakan sebagai pelajaran yang bermakna agar KTD yang sejenis tidak berulang dikemudian hari.

Keselamatan pasien dalam pelayanan Poliklinik melibatkan kegiatan sebagai berikut:

  • Manajemen sumber daya manusia: training, peningkatan kinerja/performance,
  • Keselamatan lingkungan dan manajemen risiko, meliputi: pengendalian infeksi, pemberian obat secara aman, perlengkapan/alat yang aman,  pemberian asuhan yang aman, lingkungan asuhan pasien yang aman, yang merupakan akumulasi dan pengetahuan ilmiah yang terintegrasi, yang berfokus pada keselamatan pasien dan pengembangan infrastruktur penunjang
  • Identifikasi risiko-risiko sejak awal merupakan kunci pencegahan terjadinya cidera, dan sangat tergantung dari pemeliharaan kultur/budaya saling percaya (trust), jujur (honesty), integritas (integrity) dan keterbukaan dalam komunikasi (open-communication) diantara pasien/keluarga dan pemberi pelayanan dalam suatu sistem pemberian asuhan (dokter, perawat).

Proses asuhan keperawatan yang dilakukan di Poliklinik –meskipun dilaksanakan secara sangat minimal– semestinya juga tidak mengabaikan tindakan mengkaji risiko-risiko dan kemungkinan terjadinya risiko sehingga kemudian dapat dipikirkan bagaimana mengeliminasi atau –jika tidak memungkinkan– bagaimana risiko dari kemunduran kondisi pasien dapat diminimalisir.

Standar praktik keperawatan di Poliklinik adalah berupa:

  • Promosi/pendidikan kesehatan: education, advocacy, dan counselling
  • Mengembangkan dan memelihara lingkungan terapeutik (komunikasi)
  • Standar asuhan keperawatan (SAK) dan standar operasional prosedur (SOP) keperawatan.

2 (dua) pendekatan keselamatan pasien di Poliklinik terutama adalah keselamatan lingkungan (environment safety) dan keselamatan klinik (clinical safety). Keselamatan lingkungan meliputi identifikasi potensi risiko keselamatan antara lain terhadap: (1) Instalasi listrik, (2) AC, (3) Water storage, (4) Pasien dan pengunjung, (5) Keselamatan terhadap risiko kebakaran, (6) Hazardous material, (7) Peralatan, (8) Dan lain-lain

Keselamatan klinik meliputi aspek:

(1)   SDM:

  • Perawat yang bertugas di Poliklinik adalah perawat yang telah terregistrasi di organisasi profesi serta memiliki lisensi berupa Surat Ijin Perawat (SIP) dan Surat Ijin Kerja (SIK).
  • Dilakukan pengkajian terhadap kompetensi perawat yang meliputi:
  • Pengkajian tingkat kompetensi
  • Grading kompetensi
  • Training untuk meningkatkan kompetensi
  • Program pelatihan: orientasi karyawan baru Poliklinik, mengikuti pendidikan berkelanjutan.

Program pengendalian mutu/kualitas untuk mencapai patient safety goals yang meliputi: kesalahan obat, komunikasi efektif, infeksi nosokomial, mencegah jatuh, mencegah salah orang (identitas pasien), salah tempat, atau salah prosedur pembedahan.

Kategori clinical error yang berpeluang dilakukan petugas di Poliklinik antara lain berupa:

  • Medication error: cara pemberian obat yang salah/memberikan obat yang salah, salah orang (mungkin pernah terjadi)
  • Kesalahan prosedur pada saat tindakan keperawatan/tindakan medis yang didelegasikan (mungkin pernah terjadi).
  • Pasien jatuh (pernah terjadi)
  • Terkait dengan teknologi (technology-related) atau cidera karena kesalahan/kerusakan alat (mungkin pernah terjadi)
  • Infeksi nosokomial (mungkin pernah terjadi)
  • Salah identitas pasien (pernah terjadi)
  • Salah interpretasi tanda atau gejala (mungkin pernah terjadi)

3.1.1    Identitas pasien

Untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam mengenali identitas pasien gunakan minimal 2 komponen tambahan identitas pasien yaitu umur maupun alamat. Perawat Poliklinik selalu melakukan identifikasi pasien terlebih dahulu untuk memperoleh keyakinan bahwa pasien yang dihadapi adalah benar-benar pasien yang akan memperoleh pelayanan sesuai dengan berkas rekam medis (status) yang tersedia. Perawat menggunakan paling sedikit 2 cara untuk melakukan identifikasi pasien ketika mulai berinteraksi dengan melakukan pengukuran tanda-tanda vital dan anamnesa awal, ketika memberikan obat (di Poliklinik seringkali juga dilakukan pemberian obat injeksi), ketika membuat gambaran rekam jantung (EKG), atau ketika melakukan perawatan dan tindakan lainnya.

Dalam pelaksanaannya memang terdapat juga kesalahan-kesalahan dalam mengidentifikasi pasien. Contohnya ketika perawat memanggil nama pasien A, tetapi yang kemudian datang menemui perawat adalah pasien B. Atau sekali waktu pasien C memberikan hasil laboratorium atas nama pasien C, perawat memasukkannya ke dalam berkas rekam medis pasien D. Namun kesalahan-kesalahan ini seringkali kemudian cepat disadari oleh dokter maupun oleh perawat sendiri sehingga tidak berlanjut pada kejadian-kejadian yang bersifat fatal.

3.1.2    Komunikasi Efektif

Perawat Poliklinik melakukan “read back” terhadap instruksi yang diterima secara lisan maupun melalui telepon atau melaporkan hasil pemeriksaan penting yang membutuhkan verifikasi oleh orang yang menerima informasi. Petugas Poliklinik sendiri telah mendapatkan sosialisasi standar operasional prosedur tentang komunikasi efektif. SOP ini disebut SOP “5 Cara Meningkatkan Komunikasi Efektif”. SOP ini adalah suatu upaya untuk melaksanakan komunikasi pada saat serah terima, dengan benar dan efektif di antara petugas kesehatan. Upaya meningkatkan komunikasi efektif ini meliputi:

  • Hand over (serah terima)

Petugas serah terima mencatat pesan-pesan yang perlu diinformasikan. Petugas serah terima menyampaikan pesan-pesan tersebut kepada petugas selanjutnya secara lisan sambil menyerahkan catatan yang telah dibuat sebelumnya.

  • Read back (baca ulang)

Petugas yang menerima serah terima membaca ulang pesan-pesan yang diserah terimakan.

  • Repeat back (sebutkan ulang)

Petugas penerima serah terima menyebutkan ulang semua pesan-pesan yang diserah-terimakan untuk memastikan bahwa ada persepsi yang sama antara petugas serah terima dan petugas penerima serah terima terhadap pesan-pesan yang diserah-terimakan.

  • Check back (periksa ulang)

Petugas serah terima memeriksa ulang catatan serah terima dan menambahkan apabila ada pesan-pesan tambahan yang belum tercatat.

  • Teach back (ajarkan ulang)

Ajarkan ulang bila diperlukan. Bila perlu didemonstrasikan, demonstrasikanlah agar komunikasi benar-benar menjadi efektif!.

Juga untuk menunjang komunikasi yang efektif dibuat standar terhadap singkatan, akronim, maupun simbol-simbol yang berlaku di rumah sakit termasuk di Poliklinik. Satu langkah positif bila di kalangan para dokter telah disosialisasikan sejumlah singkatan-singkatan diagnosa medis yang sering digunakan di rumah sakit sehingga tentu akan memudahkan komunikasi bagi pihak-pihak yang terkait dengan diagnosa tersebut (misalnya para dokter sendiri, perawat, maupun petugas rekam medis).

3.1.3    Pemberian Obat

Di Poliklinik juga dapat terjadi kesalahan dalam pemberian obat. Oleh karena itu prinsip 7 Benar yang umum atau yang banyak digunakan di berbagai rumah sakit dalam dan luar negeri (ada juga rs yang mengembangkan menjadi prinsip 10 Benar) hendaknya dilaksanakan secara cermat dan disiplin meliputi:

(1)       Benar obat

(2)       Benar dosis,

(3)       Benar pasien

(4)       Benar waktu dan frekuensi pemberian,

(5)       Benar cara pemberian,

(6)       Benar cairan pelarut obat

(7)       Benar kecepatan injeksi

Setiap tindakan pemberian obat dilakukan pencatatan/dokumentasi yang dilaksanakan sesuai dengan SOP Pendokumentasian. Bila terjadi kesalahan pemberian obat, periksa reaksi obat dan periksa integritas kulit (untuk pemberian obat berupa injeksi). Monitor ketat kondisi umum pasien. Oleh karenanya dalam pemberian obat hendaknya perawat Poliklinik melibatkan seorang perawat yang lain untuk mengontrol dan memastikan bahwa obat yang akan diberikan sesungguhnya telah akurat.

Pengontrolan stock obat di Poliklinik hendaknya dilaksanakan secara berkala sehingga catatan persediaan obat selalu update. Pisahkan obat-obat dengan nama obat yang mirip ataupun kemasan obat yang mirip. Ketentuan tentang penyimpanan obat adalah sebagai berikut:

(1)   Tempat penyimpanan:

  • Untuk obat-obat yang harus disimpan pada suhu kamar, simpan pada rak/lemari dan hindarkan dari cahaya
  • Untuk obat-obat yang harus disimpan pada suhu dingin, simpan pada lemari es
  • Untuk obat-obat yang mudah terbakar/korosif, simpan pada lemari yang terpisah.

(2)   Cara penyimpanan:

  • Bila obat disimpan berderet ke belakang, simpan obat dengan kadaluwarsa pendek di bagian depan
  • Bila obat disimpan berderet ke atas, simpan obat dengan kadaluwarsa pendek di bagian atas
  • Bila obat tidak ada kadaluwarsanya, simpan obat baru di bagian belakang atau di bagian bawah obat yang masih ada.

Ketentuan tentang pemberian obat yang mirip namanya maupun mirip kemasannya adalah sebagai berikut:

  • Perawat Poliklinik membaca catatan instruksi pemberian obat pasien.
  • Perawat mengambil obat yang akan disiapkan dengan membaca terlebih dahulu nama obat pada sediaan yang diambil minimal tiga kali
  • Melakukan penyiapan obat
  • Memberikan obat dengan membaca ulang tulisan pada sediaan obat sebanyak minimal tiga kali kepada pasien.
  • Baca dan sebut ulang ke orang kedua (perawat yang lain)
  • Mendokumentasikan tindakan pemberian obat.

Selain hal-hal di atas, petugas (terutama dokter dan petugas farmasi) hendaknya juga mendidik pasien/keluarga tentang obat-obatan yang telah diresepkan atau diberikan. Tujuan pendidikan adalah agar pasien/keluarga mengenali obat yang diperoleh dan mengetahui:  kegunaan obat, cara pakai obat, serta waktu penggunaan obat.

3.1.4    Mencegah Pasien Jatuh

Jatuh menjadi salah satu bagian besar dari penyebab cederanya pasien di rumah sakit. Poliklinik sebaiknya menerapkan sistem dan proses yang menghasilkan pengkajian yang cepat dan akurat pada setiap pasien. Hal ini juga berhubungan dengan pengkajian ulang pola pemberian obat untuk pasien (tipe obat tertentu dapat menjadi penyebab langsung meningkatnya risiko pasien jatuh). Poliklinik hendaknya juga menerapkan tindakan-tindakan preventif untuk mengurangi dan/ menghilangkan segala risiko yang telah teridentifikasi. Mengedukasi pasien, keluarga dan staf menjadi bagian yang penting dalam upaya menjaga tingkat kesadaran dan mengurangi risiko pasien jatuh.

Khusus untuk penangan pasien jatuh di Poliklinik SOP-nya memang belum tersedia. Perawat Poliklinik di dalam pelayanannya tetap harus melakukan pengkajian terhadap risiko pasien untuk mengalami jatuh. Pengkajian risiko jatuh dilakukan sejak pasien dipanggil masuk ke ruang klinik untuk dilakukan pengukuran tanda vital dan anamnesa sederhana sebelum pasien diperiksa oleh dokter. Lakukan monitoring ketat terhadap pasien risiko tinggi untuk jatuh. Libatkan pasien/keluarga dalam pencegahan pasien jatuh. Laporankan peristiwa pasien jatuh, jangan ditutup-tutupi.

3.1.5    Pengendalian Infeksi

Penelitian telah membuktikan bahwa melakukan petunjuk cuci tangan akan mengurangi transmisi infeksi dari petugas ke pasien. Hal ini akan mengurangi insiden kesehatan yang berhubungan dengan infeksi. Petunjuk tentang mencuci tangan hendaknya telah disosialisasikan di rumah sakit dan diterima secara umum. Rumah sakit sebaiknya memiliki komitmen penuh untuk menyajikan praktek terbaik dalam Pedoman Infection Control.

Cara transmisi dari infeksi yang paling sering adalah melalui tangan. Membersihkan tangan adalah faktor terpenting didalam mencegah penyebaran patogen dan resistensi antibiotika. Perawat Poliklinik diharapkan telah mengetahui bahwa indikasi untuk mencuci tangan adalah:

  • Bila tangan tampak kotor (cuci tangan rutin)
  • Sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
  • Sebelum dan sesudah prosedur
  • Setelah kontak dengan peralatan yang ada dan digunakan oleh pasien
  • Sebelum makan, sesudah dari toilet

Di Poliklinik telah dilakukan upaya untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial. Para perawat dan dokter melakukan prosedur cuci tangan maupun memelihara hygiene tangan dengan prosedur hands-rub menggunakan cairan Glykol (hanya butuh waktu 20 – 30 detik untuk melakukannya). Angka kepatuhan petugas Poliklinik untuk melakukan prosedur cuci tangan diharapkan mencapai 90 % (sesuai rekomendasi CDC atau Centers for Disease Control and Prevention).

Keuntungan hands-rub adalah mudah dijangkau dengan cepat selalu tersedia di ruangan klinik sehingga meningkatkan kepatuhan petugas Poliklinik. Kerugiannya adalah karena cairan hands-rub yang digunakan adalah berbahan dasar alkohol harus diperhatikan dengan cermat terhadap adanya risiko bahaya kebakaran.

Hands-rub sendiri dipakai bila tangan tidak tampak kotor. Hands-rub selalu tersedia di ruang klinik sebagai area kerja sehingga dengan demikian menjadi efektif dan efisien.

3.2 Upaya Pencegahan Kecelakaan

Upaya pencegahan kecelakaan yang dapat dilakukan di Poliklinik antara lain berupa:

  • Mengkaji tingkat kemampuan pasien untuk melindungi diri sendiri dari kecelakaan.
  • Jaga keselamatan pasien yang gelisah selama berada di tempat tidur/meja periksa
  • Jaga keselamatan pasien dari infeksi dengan mempertahankan teknik aseptik, menggunakan alat kesehatan sesuai tujuan.
  • Jaga keselamatan pasien yang dibawa dengan kursi roda.
  • Jaga kecelakaan:

-         Kunci roda kursi roda atau brankar

-         Brankar yang ada penghalangnya dipasang.

  • Cegah kecelakaan pada pasien yang menggunakan alat listrik, misal: suction, infussion pump atau syringe pump, dan lain-lain.
  • Cegah kecelakaan pada pasien yang menggunakan alat yang mudah meledak seperti tabung oksigen, dan termos.
  • Pasang label pada obat, botol dan obat-obatan yang mudah terbakar.
  • Lindungi semaksimal mungkin pasien dari infeksi nosokomial.
  • Pertahankan ventilasi dan cahaya yang adekuat.
  • Cegah terjadinya kebakaran akibat pemasangan alat bantu penerangan.
  • Pertahankan kebersihan lantai ruangan dan kamar mandi.
  • Siapkan alat pemadam kebakaran dalam keadaan siap pakai dan mampu menggunakannya.
  • Cegah kesalahan prosedur: identitas pasien harus jelas. Identifikasi pasien dengan benar.
  • Tingkatkan komunikasi efektif
  • Tingkatkan keamanan untuk pemberian obat yang berisiko tinggi.

(disusun dari berbagai sumber)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: